Selasa, 03 Mei 2011

KI RANGGA

Ki Rangga adalah putra angkat Prabu Aria Pelabu, Raja Kahuripan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, yang sakti mandraguna. Tidak seorang pun di kerajaan tersebut yang sanggup mengalahkan kesaktiannya. Setelah dewasa, Ki Rangga dinikahkan dengan seorang gadis yang cantik dan diberi wilayah kekuasaan di ujung timur Kerajaan Kahuripan. Namun, semua kebaikan Prabu Aria itu ia balas dengan pengkhianatan. Suatu malam, Ki Rangga secara diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar kedua putri sang Prabu. Tentu saja perilaku Ki Rangga tersebut membuat sang Prabu amat murka kepadanya dan berniat untuk menghukumnya. Mampukah Prabu Aria Pelabu menghukum Ki Rangga yang sakti itu? Ikuti kisahnya dalam cerita Ki Rangga berikut ini.


Di kaki Gunung Sasak, Lombok Barat, berdiri sebuah istana yang amat megah. Istana itu adalah tempat kediaman Prabu Aria Pelabu, raja dari Kerajaan Kahuripan. Sang Prabu bersama permaisuri dan kedua putri kesayangannya, Hina Manu dan Hina Hentar, hidup rukun dan bahagia dalam istana itu. Namun sayang, kebahagiaan itu terasa masih kurang karena keinginan sang Prabu dan permaisurinya untuk memiliki seorang anak laki-laki belum tercapai. Mereka sudah berusaha dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, namun permohonan mereka belum juga terkabulkan.
Hal itu rupanya menjadi beban pikiran Prabu Aria Pelabu hingga terbawa ke dalam mimpinya. Suatu malam, ia bermimpi menangkap seekor anak perkutut berbulu putih. Ia pun merawat burung itu hingga besar. Suaranya amat merdu dan bulu-bulunya pun sangat indah. Suatu ketika, tiba-tiba burung itu berubah menjadi ular berbisa dan menggigit san Prabu. Sejak itu, sang Prabu selalu duduk termenung memikirkan memikirkan mimpinya.
“Ya, Tuhan. Apakah mimpi ini pertanda buruk bagiku?” pikirnya, “Ah, semoga saja tidak akan terjadi sesuatu pada diriku dan keluargaku. Ini hanya sebuah mimpi.”
Prabu Aria Pelabu sudah berusaha menepis bayangan tentang mimpi itu, namun pikirannya masih saja gelisah. Untuk menenangkan diri, sang Prabu mengajak permaisuri dan kedua putrinya untuk menangkap ikan di muara Sungai Dodokan. Ia juga mengajak patih, punggawa, dan pendeta istana. Kegiatan menangkap ikan itulah satu-satunya cara yang biasa dilakukan sang Prabu untuk menghibur hatinya ketika sedang gelisah. Sejak kecil, sang Prabu memang sangat gemar menangkap ikan.
Setelah menyiapkan semua perbekalan yang diperlukan, berangkatlah Prabu Aria Pelabu bersama rombongan. Menjelang tengah hari, rombongan itu akhirnya tiba di muara Sungai Dodokan. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati bekal makanan, sang Prabu bersama permaisuri dan kedua putrinya pergi ke muara.
“Mari kita ke muara,” ajak sang Prabu, “Kawanan ikan biasanya bergerombol di tempat itu.”
Permaisuri dan kedua putrinya pun menuruti ajakan sang Prabu. Setiba di muara itu, tiba-tiba Putri Hina Manu melihat sebuah peti yang berukir indah terapung-apung di permukaan air.
“Hai, lihat! Ada peti hanyut!” teriak Putri Hina Manu sambil menuju ke arah peti itu.
“Hai, peti apa itu?” tanya sang Prabu penasaran, “Patih, cepat angkat peti itu!”
“Baik, Baginda,” jawab patih seraya mengangkat peti itu dan membawanya ke hadapan sang Prabu.
Alangkah terkejutnya sang Prabu dan permaisuri setelah patih membuka peti itu. Di dalamnya terdapat seorang bayi laki-laki yang amat tampan dan sehat.
“Lihat, Kanda! Bayi ini tampan sekali. Aku yakin ia bukanlah anak orang biasa,“ seru Permaisuri, “Petinya berukiran amat indah. Selimutnya terbuat dari sutra yang halus dan alas tidurnya pun dari songket yang mahal.”
Melihat ketampanan bayi itu, permaisuri pun tertarik ingin merawatnya.
“Kanda, sebaiknya kita bawa pulang saja bayi ini. Aku ingin sekali merawat dan membesarkannya,” ujar permaisuri.
Prabu Aria Pelabu sejenak termenung, lalu memerintahkan pendeta untuk memberkati bayi itu sebelum mengangkatnya sebagai anak. Sebelum pemberkatan dimulai, sang Prabu menceritakan perihal mimpinya kepada pendeta itu. Mendengar cerita sang Prabu, pendeta itu akhirnya tidak jadi memberkati bayi itu seraya memberi saran kepada sang Prabu agar tidak mengambil bayi itu.
“Ampun, Baginda. Sebaiknya Baginda tidak mengangkat bayi ini sebagai anak. Kelak setelah dewasa, ia akan membawa bencana bagi Baginda,” ujar pendeta itu.
Sebenarnya, Prabu Aria Pelabu ingin menuruti nasehat sang Pendeta. Namun, permaisurinya tetap bersikeras untuk mengangkat bayi itu sebagai anak.
“Kanda, bukankah sudah lama kita menginginkan seorang anak laki-laki? Tapi, ketika Tuhan menganugerahi kita bayi laki-laki, walaupun tidak lahir dari rahim Dinda, mengapa Kanda menolaknya?” kata sang Permaisuri.
“Benar, Ayahanda! Kami pun amat senang jika mempunyai adik laki-laki. Apalagi bayi ini lucu sekali,” imbuh Putri Hina Manu.
Pria Aria Pelabu pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menuruti keinginan permaisuri dan kedua putrinya. Akhirnya, mereka pun membawa pulang bayi itu ke istana dan memberinya nama Ki Rangga. Dalam asuhan sang Permaisuri, Ki Rangga diajari berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu bela diri sehingga tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah perkasa.
Ki Rangga dinikahkan dengan seorang gadis cantik dari lingkungan bangsawan istana. Setelah itu, ia diberi wilayah kekuasaan di ujung timur Kerajaan Kahuripan. Sejak itulah, Ki Rangga bersama istri dengan dibantu sejumlah pengawal menjadi penguasa di wilayah timur kerajaan milik ayah tirinya.
Meskipun telah memiliki istri, Ki Rangga rupanya secara diam-diam jatuh hati kepada kedua kakak angkatnya, Hina Manu dan Hina Hentar. Oleh karena itu, ia kerap berkunjung ke Kerajaan Kahuripan dengan alasan urusan kerajaan. Padahal sebenarnya, maksud kunjungannya ke kerajaaan itu hanya ingin bertemu dengan kedua kakak angkatnya itu.
Suatu malam, Ki Rangga menyelinap masuk ke dalam kamar Hina Manu dan Hina Hentar. Prabu Aria Pelabu yang mendapat laporan tentang peristiwa tersebut menjadi marah dan murka kepada Ki Rangga.
“Dasar, anak tidak tahu diuntung! Diberi air susu malah dibalas dengan air tuba!” kata sang Prabu geram.
Tidak terima perlakuan Ki Rangga atas kedua putrinya, Prabu Aria Pelabu berniat untuk menghukumnya. Namun karena Ki Rangga sakti mandraguna, sang Prabu terpaksa menggunakan tipu muslihat. Alhasil, ia pun berhasil menangkap anak angkatnya itu dengan cara menjeratnya dengan jala dan serat sutra. Ki Rangga kemudian dibawa ke istana dan diikat di bawah pohon besar untuk dihukum gantung pada esok harinya. Namun, pada malam hari sebelum hari pelaksanaan hukuman, Ki Rangga dapat melepaskan diri berkat kesaktiannya.
Setelah itu, Ki Rangga bersama istri dan para pengawalnya melarikan diri ke arah selatan menuju Pantai Tabua, Lombok Tengah, yang merupakan wilayah kekuasaan Raja Pejanggi. Mengetahui akan hal itu, Prabu Aria Pelabu pun meminta bantuan kepada Raja Pejanggi untuk menangkap Ki Rangga. Raja Pejanggi segera mengirim para prajuritnya ke Pantai Tabua. Rupanya, para prajurit Pejanggi tersebut tidak sanggup menghadapi kesaktian Ki Rangga. Dari duabelas prajut yang dikirim, hanya enam orang yang berhasil selamat dan itu pun dalam keadaan cacat dan terluka parah.
Mendengar kabar tersebut, Prabu Aria Pelabu tidak putus asa. Ia segera meminta bantuan kepada dua pendekar bersaudara Ari Pati dan Neq Dipati dari Batu Dendeng, yang terkenal sakti. Maka, berangkatlah kedua pendekar itu ke Pantai Tabua. Setiba di sana, mereka langsung dihadang oleh para pengikut Ki Rangga. Tidak begitu sulit bagi mereka mengalahkan pasukan Ki Rangga. Namun, ketika menghadapi Ki Rangga, mereka justru kalah meskipun telah menggunakan keris pusaka mereka. Untung mereka masih bisa menyelamatkan diri.
Keesokan harinya, Ari Pati dan Neq Dipati pun menyusun siasat agar bisa menangkap Ki Rangga. Keduanya pun berembug untuk dapat mengelabui putra angkat sang Prabu itu.
“Kanda, siasat apa yang sebaiknya kita gunakan untuk mengalahkan kesaktian Ki Rangga?” tanya Neq Dipati.
Ari Pati hanya termenung. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia pun menemukan sebuah cara untuk mengelabui Ki Rangga.
“Hmmm… aku tahu sekarang. Bukankah Ki Rangga itu suka pada wanita-wanita cantik alias mata keranjang?” kata Ari Pati.
“Benar, Kanda. Lalu, apa rencana Kanda selanjutnya?” tanya Neq Dipati.
“Sebaiknya kita menyamar menjadi gadis cantik lalu kita bujuk Ki Rangga agar mau membuka rahasia kesaktiannya,” ujar Ari Pati.
“Wah, itu siasat yang bagus, Kanda,” kata Neq Dipati setuju.
Akhirnya, kedua pendekar bersaudara itu dengan kesaktiannya mengubah diri mereka menjadi dua gadis cantik dan rupawan. Saat hari mulai gelap, berangkatlah kedua gadis cantik palsu itu ke Pantai Tabua dengan mengenakan pakaian dan indah. Setiba di sana, keduanya silih berganti membujuk Ki Rangga. Alhasil, Ki Rangga pun termakan oleh bujuk rayu mereka. Ia pun menceritakan rahasia kesaktiannya bahwa dirinya dapat dibunuh jika berada di dalam kamar tidurnya.
Setelah mengetahui rahasia itu, kedua gadis itu cepat-cepat berpamitan pulang. Rupanya mereka tidak segera pulang, tetapi bersembunyi di sekitar tempat Ki Rangga menginap. Saat tengah malam, Ki Rangga pun mulai mengantuk dan segera masuk ke dalam penginapannya. Pada saat itulah, Ari Pati dan Neq Dipati segera mengubah kembali dirinya menjadi dua pendekar. Setelah itu, keduanya segera menyerang Ki Rangga yang berada di dalam kamarnya. Pertarungan sengit pun terjadi. Mulanya, Ki Rangga masih mampu melawan. Namun, karena dikeroyok oleh dua pendekar sakti, akhirnya tubuhnya terkena tusukan keris pusaka milik Ari Pati. Racun pada keris itu pun langsung menjalar ke seluruh tubuh Ki Rangga hingga berwarna biru kelam. Tak berapa lama kemudian,  Ki Rangga pun tewas dengan mengenaskan.
* * *
Demikian cerita Ki Rangga dari Nusa Tenggara Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa seseorang yang tidak pandai berterima kasih seperti Ki Rangga akan menerima pembalasannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

DONGENG DAN CERITA RAKYAT INDONESIA Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez