Selasa, 03 Mei 2011

LEGENDA BUKIT FAFINESU

Bukit Fafinesu terletak di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fafinesu dalam bahasa setempat berarti babi gemuk. Dulunya, bukit ini belum mempunyai nama. Namun, setelah terjadi peristiwa ajaib dan mengharukan di bukit itu, maka dinamakanlah Bukit Fafinesu. Peristiwa apakah yang terjadi di bukit itu? Temukan jawabannya dalam cerita Legenda Bukit Fafinesu berikut ini.



Alkisah, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, ada tiga orang anak yatim piatu. Mereka adalah Saku dan dua orang adiknya Abatan dan Seko. Ayah mereka meninggal dunia karena terguling ke jurang ketika sedang berburu babi hutan beberapa tahun yang lalu. Selang tujuh bulan kemudian, ibu mereka menyusul sang Ayah karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan si Bungsu. Untungnya, nenek mereka masih hidup sehingga ada yang merawat Seko. Namun, ketika Seko berumur dua tahun, sang Nenek pun meninggal dunia karena dimakan usia.
Sejak itulah, ketiga anak yatim tersebut harus menghidupi diri mereka. Meskipun masih ada keluarga ibunya yang bersedia memelihara si Bungsu, namun lantaran memiliki rasa tanggung jawab, si Sulung mengambil alih peran orang tuanya untuk merawat dan mendidik kedua adiknya. Mereka ingin belajar hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain.
Waktu terus berjalan. Abatan tumbuh menjadi remaja yang rajin dan cerdas. Tanpa disuruh oleh kakaknya, ia rajin menanam jagung dan ketela di ladang. Ia juga rajin mencari kayu bakar dan memasak untuk kakak dan adiknya. Si Bungsu pun kini telah berumur lima tahun dan menjadi anak yang penurut. Ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh bahagia hati Saku melihat kedua adiknya tumbuh menjadi orang yang baik. Walaupun hidup miskin, mereka senantiasa rukun dan bahagia.
Suatu malam yang sunyi, si Bungsu tidak bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba hatinya diselimuti kerinduan yang mendalam terhadap kedua orang tuanya. Sejak bayi, ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia pun bertanya kepada kakak sulungnya tentang keberadaan kedua orang tua mereka.
“Kaka Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kapan mereka akan pulang? Adik sangat merindukan mereka.”
Wajar memang jika si Bungsu bertanya demikian karena kedua kakaknya tidak pernah menceritakan mengenai keberadaan kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin melihat si Bungsu menjadi sedih lantaran mengetahui keberadaan kedua orang tua mereka. Untuk itulah, Saku pun berusaha menghibur adiknya.
“Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku! Sebentar lagi mereka pulang membawa daging rusa yang lezat dan anak-anak babi,” kata Saku seraya mendongeng hingga si Bungsu tertidur pulas.
Setelah itu, giliran Saku yang tidak bisa memejamkan mata. Ia sedih melihat adik bungsunya. Malam itu, langit di angkasa tampak cerah. Rembulan bersinar terang dan bintang-bintang pun berkelap-kelip. Saku mengambil serulingnya lalu berjalan menuju ke sebuah bukit tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Suara-suara binatang malam mengiringi perjalanannya hingga tiba di puncak bukit. Di atas bukit itu, Saku berdiri sambil memandang langit.
“Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalian meninggalkan kami,” keluh Saku sambil mendesah.
Tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya dan mengalir membasahi kedua pipinya. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian meniup serulingnya dan menyanyikan lagu kesukaannya.

Ama ma aim honi
Kios man ho an honi
Nem nek han a amnaut
Masi ho mu lo’o
Au fe toit nek amanekat
Masi hom naoben me au toit
Ha ho mumaof kau ma hanik kau

Artinya:
Ayah dan Ibu
Lihatlah anakmu yang datang
Membawa setumpuk kerinduan
Walau kamu jauh
Aku butuh sentuhan kasihmu
Walau kalian telah tiada, aku minta
Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezeki

Saku menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tanpa sepengetahuannya, ternyata ayah dan ibunya mendengar lagu yang indah itu. Roh kedua orang tuanya pun turun dari langit menuju ke bukit itu. Melalui angin malam, roh sang Ayah berkata kepada Saku.
“Anakku, ayah dan ibumu mendengarkanmu. Kami mencintaimu. Meskipun kita berada di dunia yang berbeda, kita tetap dekat.”
Seketika itu, Saku jadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Namun ia tahu kalau itu suara ayahnya. Selang beberapa saat kemudian, suara itu terdengar lagi.
“Anakku, besok malam sebelum ayam berkokok, ajaklah adik-adikmu menemui ayah dan ibu kalian di tempat ini. Jangan lupa membawa seekor ayam jantan merah untuk dijadikan korban!” pesan suara gaib itu.
Setelah suara itu lenyap, Saku bergegas kembali ke rumahnya dan tidur. Keesokan harinya, ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada adik-adiknya. Betapa gembiranya hati si Bungsu mendengar cerita itu. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orangtuanya yang selama ini dirindukannya.
Pada saat tengah malam, Saku bersama kedua adiknya berangkat ke puncak bukit. Tidak lupa pula mereka membawa seekor ayam jantan merah pesanan kedua orangtua mereka. Tak berapa lama setelah mereka tiba di bukit itu, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pepohonan meliuk-liuk dan dedaunan rontok pun beterbangan sehingga menimbulkan suara menderu-deru. Rambut dan pakaian ketiga anak itu melambai-lambai seolah-olah hendak diterbangkan angin. Begitu tiupan angin berhenti, tiba-tiba dua sosok bayangan berdiri di hadapan mereka.
“Ayah, Ibu!” seru Saku saat melihat bayangan itu.
Mengerti kedua bayangan itu adalah orangtuanya, si Bungsu segera mendekat ke salah satu bayangan itu dan memeluknya erat-erat.
“Ibu, saya sangat merindukanmu,” kata si Bungsu.
‘Iya, Anakku! Kami juga sangat merindukan kalian. Ibu tidak pernah melupakanmu,” jawab sang Ibu.
Suasana di puncak bukit itu menjadi hening. Pertemuan seluruh anggota kelurga kecil itu membawa perasaan haru di hati mereka. Setelah mereka selesai melepaskan kerinduan, sang Ayah mengajak istri dan ketiga anaknya untuk ke dasar jurang.
“Sekarang marilah kita turun ke jurang. Di sana kita akan mengorbankan ayam jantan merah yang kalian bawa dan kemudian mengambil dua ekor babi,” ujar sang Ayah.
Setibanya di dasar jurang, Seko segera menyembelih ayam jantan itu. Tatkala darah ayam itu menyentuh bumi, tiba-tiba dua ekor babi gemuk muncul di tengah-tengah mereka. Betapa senangnya ketiga anak itu. Mereka segera mendekati kedua babi itu dan mengelus-elusnya.
“Terima kasih, Ayah, Ibu,” ucap ketiga anak itu serentak.
“Dengarlah wahai, anak-anakku! Peliharalah kedua babi itu baik-baik sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita di tempat ini,” ujar sang Ayah.
Selang beberapa setelah sang Ayah berpesan, ayam jantan mulai berkokok. Cahaya kemerahan-merahan mulai tampak di ufuk timur pertanda pagi menjelang. Angin pun kembali berbertiup kencang. Pada saat yang bersamaan, bayangan kedua orang tua mereka tiba-tiba lenyap. Saku dan kedua adiknya segera menggiring kedua babi itu pulang ke gubuknya dengan perasaan gembira untuk dipelihara. Sejak itu, ketiga anak yatim piatu itu dan keturunannya menjadikan babi sebagai salah satu hewan peliharaan.
Untuk mengenang peristiwa tersebut ketiga anak yatim tersebut menamai bukit itu dengan nama Bukit Fafinesu, yang berarti bukit babi gemuk. Hingga saat ini, Bukit Fafinesu masih dapat disaksikan di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
* * *
Demikian cerita Legenda Bukit Fafinesu dari daerah Nusa Tenggara Timur. Legenda yang menceritakan asal-mula nama Bukit Fafinesu ini masih dipercayai oleh masyarakat pendukungnya. Adapun pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa dalam persaudaraan, sebagai anak sulung seperti Saku semestinya memiliki rasa tanggungjawab mengasuh adik-adiknya apalagi jika kedua orang tua telah tiada. Sifat tanggungjawab Saku tampak ketika ia memutuskan untuk merawat dan mendidik sendiri adik-adiknya tanpa harus bergantung kepada orang lain.

1 komentar:

  1. Assalamu alaikum wr wb,,senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman2 melalui room ini, sebelumnya dulu saya adalah seorang Pengusaha Butik yg Sukses, kini saya gulung tikar akibat di tipu teman sendiri, ditengah tagihan utang yg menumpuk, Suami pun meninggalkan saya, dan ditengah himpitan ekonomi seperti ini, saya coba buka internet untuk cari lowongan kerja, dan secara tdk sengaja sy liat situs pesugihan AKI SYEH MAULANA, awalnya saya ragu dan tidak percaya, tapi setelah saya lihat pembuktian video AKI ZYEH MAULANA Di Website/situnya Saya pun langsug hubungi beliau dan Semua petunjuk AKI saya ikuti dan hanya 3 hari, Alhamdulilah Ternyata benar benar terbukti dan 2Miliar yang saya minta benar benar ada di tangan saya, semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha, kata kata beliau yang selalu sy ingat setiap manusia bisa menjadi kaya, hanya saja terkadang mereka tidak tahu atau salah jalan. Banyak orang menganggap bahwa miskin dan kaya merupakan bagian dari takdir Tuhan. Takdir macam apa? Tuhan tidak akan memberikan takdir yang buruk terhadap kita, semua cobaan yang Tuhan berikan merupakan pembuktian seberapa kuat Anda bertahan di dalamnya. Tuhan tidak akan merubah nasib Anda jika Anda tidak berusaha untuk merubahnya. Dan satu hal yang perlu Anda ingat, “Jika Anda terlahir miskin itu bukan salah siapapun, namun jika Anda mati miskin itu merupakan salah Anda, saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI ZYEH MAULANA saya Bisa sukses. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, AKI ZYEH MAULANA Banyak Dikenal Oleh Kalangan Pejabat, Pengusaha Dan Artis Ternama Karna Beliau adalah guru spiritual terkenal di indonesia,jika anda ingin seperti saya silahkan Lihat No Tlp Aki Di website/internet »»>KLIK DISINI<««



    BalasHapus

 

DONGENG DAN CERITA RAKYAT INDONESIA Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez